Lembaga Penjaminan Mutu UNSIQ | Penetapan Standar Mutu...Perlukah ? | Audit Mutu Internal Ke-I Di Tahun 2016 | SOP, Pelayanan Prima Ala LPM | Kualitas UNSIQ Melejit Dengan TOT Audit Mutu Internal | Masih Banyak Dosen PTS Berkualifikasi S1 dan DIV | Kemristekdikti Buka "Lowongan" Dosen Khusus |

   Artikel

Sifat Nabi dalam Implementasi Pedagogis


Post in 02-02-2016

DALAM tradisi pendidikan Islam, hampir semua contoh perilaku tentang sebaikbaiknya manusia selalu dinisbatkan terhadap pribadi Muhammad, rasul semesta alam. Dalam pribadi Nabi banyak i’tibar atau pelajaran yang bisa dilihat dan ditiru karena sepanjang hidupnya Nabi selalu memberikan contoh perilaku yang seharusnya mudah diteladani umatnya. Ambil contoh misalnya perilaku nirkekerasan, mudah memaafkan orang, sangat toleran, dan teguh pada pendirian. Dalam beragam hikayat, perkataan dan perilaku Nabi ialah sumber pencerahan kondisi aktual masyarakat yang memiliki relevansi hingga hari ini.

Dalam keseharian, sebenarnya para guru kita bisa secara implementatif mempraktikkan empat sifat Nabi yang sangat populer di kalangan umat Islam dalam proses belajar-mengajar. Jika para guru memiliki daya kritis dalam menilai siklus sifat Nabi, sebuah sekolah pasti akan memiliki bangunan budaya sekolah yang kuat karena karakter dan kesadaran individual para pemangku kepentingan sekolahnya bergerak berdasarkan pemahaman dan kesadaran yang utuh terhadap sifat Nabi tersebut. Yang sering terjadi sifat Nabi itu kebanyakan dihafal sebagai panduan moral semata, tanpa ada keinginan untuk menerjemahkannya dalam praktik keseharian di sekolah.

Siklus sifat Nabi

Agar menjadi siklus implementasi pedagogis di sekolah, memahami dan mempraktikkan sifat Nabi dalam keseharian di sekolah sebenarnya merupakan kebutuhan individu seseorang tentang makna belajar. Karena itu, penting bagi setiap guru dan siswa untuk mulai menyadari pentingnya daya kritis dan kecerdasan sebagai dasar untuk terus belajar. Sebagaimana fathonah yang berarti cerdas, ialah tugas seorang guru terus membaca agar kecerdasan terus bertumbuh. Dari sisi kehidupan Nabi, tanda kecerdasan beliau terlihat dari cara-cara Nabi menyelesaikan masalah, melihat kondisi sosial masyarakat secara tajam, bahkan dengan proses yang tak pernah menyakiti orang kecuali orang-orang yang memang membencinya.

Jelas terlihat meskipun Nabi amat populer dengan julukan ummiy, beliau ialah seorang pemikir yang mempergunakan kelebihan akal pikiran atau otak yang diberikan Tuhan untuk menganalisis setiap persoalan yang ada. Jika di relung pikir setiap guru tumbuh kesadaran untuk terus belajar dan membaca dalam rangka mempertahankan kecerdasan otaknya, daya kritis dalam melaksanakan proses belajar-mengajar pasti akan penuh dengan imajinasi dan kreativitas. Penanda kecerdasan dalam aspek pedagogis ialah munculnya imajinasi dan kreativitas dalam mengelola proses belajar-mengajar.

Setelah fathonah dilaksanakan secara jelas dan terusmenerus, tugas seorang guru dalam konteks siklus sifat Nabi selanjutnya ialah memberikan contoh dan keteladanan sikap dalam praktik mengajar sehari-hari. Penanda amanah, sifat Nabi yang kedua, ialah bertanggung jawab secara konkret dalam memberikan contoh perilaku yang baik kepada siswa. Amanah tak hanya berarti bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi tugas utama seorang guru dalam mengajar, lebih jauh daripada itu ialah bagaimana bertanggung jawab dalam memberikan keteladanan. Tanpa keteladanan, mustahil bagi seorang guru bisa dibilang sebagai orang yang amanah. Penting untuk diingat, untuk menjadi amanah, seseorang dan apalagi seorang guru perlu memiliki kecerdasan (fathonah) terlebih dahulu.

Jika praktik fathonah dan amanah secara implementatif telah dijalankan dalam skema pedagogis pengajaran sehari-hari, siklus sifat Nabi selanjutnya ialah tabligh atau menyampaikan. Dalam bahasa sosiologis, tabligh sebenarnya merupakan kemampuan atau kompetensi sosial seorang guru dalam menjalin hubungan dan berinteraksi dengan semua siswa, sejawat guru, kepala sekolah juga dengan masyarakat atau orangtua siswa. Network atau silaturahim atau kemampuan berkomunikasi dengan baik dan santun mungkin relevan untuk disematkan terhadap para guru yang ingin memperoleh tanda sebagai ahli waris sifat Nabi yang ketiga ini. Bisa dibayangkan jika seorang guru tak memiliki kemampuan bersilaturahim dan berkomunikasi dengan baik, pasti secara otomatis dia tidak cerdas (fathonah) dan tak suka menjadi teladan (amanah) bagi orang lain.

Bisa dikatakan jika seseorang ingin mewarisi sifat-sifat Nabi pada dirinya, secara individual yang perlu ditanamkan dan dilakukan ialah menunjukkan kecerdasan dalam belajar, mampu memberikan teladan secara konsisten, serta memiliki kemampuan menjalin silaturahim kepada setiap orang. Mungkin terbaca hal itu sangatlah sederhana, tetapi tanpa disiplin individual yang terus-menerus untuk mempraktikkannya, akan mustahil bagi seorang guru memperoleh kategori bisa dan dapat dipercaya (siddiq) oleh siswa, rekan sesama guru, kepala sekolah, atau bahkan masyarakat/orangtua siswa.

Sebagai sifat nabi keempat, siddiq jelas merupakan label yang diberikan orang lain terhadap seseorang yang telah membuktikan kecerdasannya untuk terus mau belajar, mampu memberikan teladan kebaikan, serta memiliki keterampilan berkomunikasi yang dibutuhkan. Sifat siddiq merupakan hasil atau output dari usaha perseorangan dalam membuktikan diri menjadi orang yang bisa dipercaya. Seorang guru bisa dikatakan berhasil dan dipercaya siswa atau masyarakat jika memiliki usaha sendiri dalam membuktikan diri untuk terus belajar, memberi teladan, dan bersilaturahim dengan baik.

Jika hidup adalah sebuah siklus hidup-mati-dan-hidupkembali sebagaimana semua agama meyakini soal hari kebangkitan (resurrection), seharusnya para guru muslim tak sulit untuk belajar dari siklus sifat Nabi Muhammad SAW yang penuh teladan sehingga kerumitan persoalan belajar-mengajar selalu bisa diatasi dan memperoleh jalan keluar yang sebenarnya. Pentingnya mempelajari siklus sifat Nabi secara benar ialah sebuah tuntutan keharusan bagi setiap guru muslim. Jika tidak, hal itu artinya sama dengan bentuk kebohongan, sementara hampir semua umat Islam mengaku mencintai Nabi Muhammad, tetapi keteladanan Muhammad dalam siklus sifat hidupnya tidak pernah dipahami dan dipraktikkan secara benar. Dalam bahasa agama kebohongan semacam ini bisa disebut sebagai kelalaian (wayl), sebuah perilaku rata-rata masyarakat jahiliah yang senang berbohong dan meremehkan persoalan.

 

Ahmad Baedowi ; Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta