Lembaga Penjaminan Mutu UNSIQ | Penetapan Standar Mutu...Perlukah ? | Audit Mutu Internal Ke-I Di Tahun 2016 | SOP, Pelayanan Prima Ala LPM | Kualitas UNSIQ Melejit Dengan TOT Audit Mutu Internal | Masih Banyak Dosen PTS Berkualifikasi S1 dan DIV | Kemristekdikti Buka "Lowongan" Dosen Khusus |

   Artikel

Pengajaran Menyelamatkan Kehidupan


Post in 02-02-2016

Bersama tapi tak berhubungan. Itulah tema salah satu lukisan pada pameran lukisan di Bentara Budaya Yogyakarta, beberapa tahun yang lalu. Lukisan itu memotret peran teknologi dalam kehidupan.

Pada lukisan itu digambarkan sekelompok orang duduk bersama. Masing-masing asyik dengan ponselnya. Mereka bersama, tetapi tak saling terhubung. Masing-masing terhubung dengan seseorang atau sesuatu entah di mana. Itu potret teralienasi dalam kebersamaan. Tragis!

Kondisi hidup yang dipotret pelukis itu semakin kita rasakan. Teknologi komunikasi yang memuja efisiensi dan efektivitas merapuhkan perjumpaan fisik. Padahal, belajar dari Emanuel Levinas, perjumpaan wajah bisa menajamkan empati hingga menumbuhkan tanggung jawab moral atas nasib sesama.

Ketika perjumpaan fisik merapuh, hakikat komunikasi pun runtuh. Komunikasi sepihak tanpa perjumpaan wajah meminimalkan hingga menihilkan klarifikasi. Perlahan tapi pasti kita belajar untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang kita wartakan. Pun bila warta itu berpotensi menghancurkan kehidupan. Hasrat menggosip seperti menemukan ruangnya.

Kondisi hidup hari ini akibat ketidakmampuan kita mengelola dampak teknologi pernah menggelisahkan Albert Einstein. Ia bertutur, “I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.” Adakah kini kita sedang melahirkan generasi dungu, tuna-empati, dan bebal tanggung jawab moral? Apa yang bisa diajarkan kepada anak-anak kita demi menyelamatkan kehidupan mereka?

Ragam kegelisahan

Kondisi relasi manusiawi di atas hanya satu dari banyaknya dampak kegagapan kita mengelola dinamika hidup akibat sinergi teknologi dan bisnis yang kian menderas. Paus Fransiskus adalah satu dari banyak tokoh dunia yang menyadari terancamnya harmoni dan keberlanjutan hidup yang bermartabat akibat gagap mengelola dinamika itu.

Pada banyak perjumpaan, beliau menawarkan sejumlah resolusi. Terhadap karut-marut pola relasi antar-manusia, beliau mengajarkan untuk berhenti menggosip, dan memberikan waktu serta perhatian kepada orang lain. Kita diajak untuk berani berjarak dengan sarana komunikasi dan duduk bersama.

Paus sadar dunia ini sedang diancam oleh kebencian yang ditebar subur oleh komunikasi sepihak tak bertanggung jawab. Salah satunya perilaku menggosip.

Penebar kebencian membiarkan konsumen wartanya dalam kebingungan hingga akhirnya tersesat. Kecurigaan karena informasi tak utuh dan nihil klarifikasi sering menjadi target. Maka, Paus juga mengajak untuk tetap berteman dengan mereka yang tidak setuju dengan kita dan berhenti menghakimi sesama. Dengan cara ini, ruang curiga karena pembodohan diciutkan.

Akibat masifnya penjejalan iklan yang canggih, hasrat konsumsi kita kian menggila. Pola konsumsi cenderung beralih dari butuh ke sekadar ingin. Dampak pola konsumsi ini sungguh memprihatinkan. Sikap ugahari dan hidup bersahaja tak lagi dihayati. Lihatlah betapa gampang kita membuang makanan. Padahal, teknologi komunikasi mengabarkan begitu banyak orang di belahan dunia lain yang kelaparan. Gambaran lain atas realitas ini bisa diunduh dari Youtubedengan menggunakan kata kunci “di balik makanan sisa”.

Atas realitas itu, Paus mengajak untuk makan secukupnya dan menghabiskan makanan yang telah diambil, berbelanja barang yang sederhana atau hidup bersahaja, dan menjumpai mereka yang miskin. Sesungguhnya membuang makanan dengan percuma adalah wujud merampok hak orang miskin yang kelaparan. Perjumpaan dengan orang miskin akan menajamkan empati dan tanggung jawab moral kita pada sesama. Maka, program tinggal di dan bersama kaum miskin pada banyak sekolah itu pantas dilanjutkan demi kualitas anak didik, juga demi menyelamatkan kehidupan.

Perlu langkah nyata

Agaknya, ada baiknya kita mengajarkan resolusi semacam ini dalam hidup sehari-hari, khususnya dalam dunia pendidikan. Resolusi ini bisa dihayati sebagai upaya nyata anak-anak kita terlibat merawat dan menyelamatkan bumi ini, bumi mereka.

Tawaran resolusi ini memang remeh. Itu ajaran sederhana. Tetapi, resolusi ini praktis dan bisa kita ajarkan kepada anak-anak kita. Resolusi ini membantu anak-anak kita menjadi tuan atas nasibnya, bukannya hanyut dalam derasnya laku egoisme, tunamoral serta empati karena rapuhnya perjumpaan. Resolusi ini adalah langkah nyata melibatkan anak-anak kita untuk merawat dan menyelamatkan kehidupan ini, kehidupan mereka.

 

Sidharta Susila ; Pendidik di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah